NEWS  

Bukan Sekadar Bersih Desa, Suratmajan Maospati Menjadikan Tayub dan Punden sebagai Penanda Identitas

oplus_2

MAGETAN — SIGAP88.NET — Di tengah perubahan zaman yang semakin cepat, masyarakat Desa Suratmajan, Kecamatan Maospati, Kabupaten Magetan, memilih cara berbeda untuk menjaga ingatan kolektif tentang asal-usul desanya.

Sabtu (22/8/2026), warga kembali menggelar tradisi bersih desa. Namun, kegiatan tersebut bukan semata-mata ritual tahunan. Di balik slametan dan pagelaran seni tradisional, tersimpan upaya masyarakat untuk mempertahankan hubungan antara generasi sekarang dengan sejarah serta warisan budaya para leluhur.

Sejumlah punden yang memiliki nilai sejarah bagi masyarakat menjadi salah satu titik penting dalam rangkaian kegiatan. Slametan digelar sebagai bentuk ungkapan rasa syukur sekaligus penghormatan terhadap jejak perjalanan desa yang masih dijaga hingga kini.

Bagi masyarakat Suratmajan, punden bukan sekadar sebuah tempat. Keberadaannya menjadi pengingat bahwa sebuah desa memiliki sejarah panjang yang tidak lahir begitu saja.

Kepala Desa Suratmajan, Wahyu Heri Pramono, mengatakan tradisi tersebut merupakan bagian dari identitas masyarakat yang harus terus dijaga.

“Bersih desa ini sebagai bentuk rasa syukur kita dari masyarakat Desa Suratmajan dan sebagai cikal bakal pelestari budaya yang turun-temurun dari nenek moyang terdahulu,” ujar Wahyu.

Pesan pelestarian budaya kemudian diteruskan melalui panggung kesenian. Pagelaran Tayub Langen Beksan menjadi bagian dari rangkaian acara sekaligus menghadirkan suasana guyub di tengah masyarakat.

Kesenian tradisional tersebut menjadi penting bukan hanya karena nilai hiburannya. Tayub juga menjadi ruang pertemuan masyarakat, tempat warga berinteraksi, berkumpul dan menikmati kesenian yang telah menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat Jawa.

Di sinilah bersih desa Suratmajan memiliki makna yang lebih luas. Tradisi tidak hanya ditempatkan sebagai peninggalan masa lalu, tetapi diberi ruang untuk tetap hadir dalam kehidupan masyarakat masa kini.

Wahyu menilai keberadaan punden dan petilasan juga perlu terus dikenalkan kepada generasi muda. Sebab, tanpa pemahaman terhadap sejarah lokal, generasi berikutnya berpotensi kehilangan hubungan dengan akar budaya daerahnya sendiri.

Sementara itu, keberlangsungan Tayub Langen Beksan menjadi salah satu cara agar kesenian tradisional tidak hanya dikenang sebagai cerita masa lalu.

“Harapannya, tradisi dan budaya yang sudah diwariskan ini tetap lestari, bisa diteruskan anak cucu kita, serta menjadi bagian dari identitas Desa Suratmajan,” katanya.

Bersih desa akhirnya menjadi semacam ruang temu antara masa lalu dan masa kini. Punden mengingatkan masyarakat pada sejarah, slametan menjadi simbol rasa syukur, sementara Tayub menjadi medium untuk menjaga kebudayaan tetap hidup.

Dari Suratmajan, pesan yang muncul cukup jelas: melestarikan budaya bukan hanya menjaga benda atau ritual peninggalan leluhur, tetapi memastikan nilai-nilai di dalamnya tetap dipahami dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Tradisi pun tidak berhenti sebagai seremoni tahunan. Ia menjadi cara masyarakat menjaga identitas desa agar tetap memiliki akar di tengah perubahan zaman. (Vha)

error: Content is protected !!